Pages

Kamis, 20 September 2012


Lorongku tak bertalikan musim
Penat berjingkat dari mimpi memaki nada keabadian
Berkawan perasaan nan hambar laguku
Terwengku syair menggigil sepanjang kemarau

       Tak apa buih berwujud menjelma bayang
       Laraku laksana bayang
       Yang tak terlepas dari raga

       Musim berlalu, dingin menyapa membingkai onak dalam tanya. Tak ada kebencian sekalipun pagi menyapa membakar kisah. Rinduku halimun tipis menusuk ulu hati hingga membeku bagai arca tak terpahatkan.

       Lenggang waktu menari dengan jentik jemari memaki, berbilur hasrat membakar sehelai asa yang menjula keinginan tentang kisah pelangi setelah hujan.

Nyata dalam dilema, Moch. Nashril di Lembah Sayang Penantian-Bukit Rindu.

Rabu, 18 Juli 2012

Sebutir mutiara Illahi penyejuk jiwa damai

Dan adalah tangis yang kutemui tatkala hati tak mampu bertutur serta dzahir yang tak mampu bergerak saat kilau embun jatuh dan meresap ke dalam tanah sebuah hati. Rasa takut kemarin lalu adalah alfa sebuah sikap ketika mata memerah terbangun dari mimipi lalu yang telah bersemayam.

                 Jika aku harus menghiba, beri sedikit ruang atau lentera sebab malamku pekat dan harapan dari nyanyian yang disenandungkan lewat dawai ghaib masih membayang remang.

                Terjatuh dalam angkara atau membumbung tinggi melihat luas langit biru, adalah titian Illahi yang akan kutapaki bersama ikhlas mentari pada buana.
Aku pun tak berharap jika fatamorgana menghiasi titian langkah yang akn kita titi kaki, dan berwujudnya alunan kisah adalah kisaran do'a yang kudamba.

                Harapku kian memutih, sepercik air telah membasuh permukaan dari perih. Dan lolongan srigala takan mampu menghalangi langkah dalam sujudku.

                Sebutir mutiara Illahi penyejuk jiwa dengan damai.

                 Semua telah kulepas segala senandung tentang harap dari terjal gemuruh badai yang aku rasa sering menyudutkan dalam setiap akhir episodenya. Adalah lirih dari cara bahasamu yang senantiasa kutemui dalam alur ceritanya hingga aku tersungkur dalam tersembunyi dari bijak dalam tutur dan berpikir, sehingga semua telah menuntunku tanpa cemas dalam harap.

                Ingin kupelajari lirih bait bahasamu tentang kesetiaan pada Illahi, hingga takdir menemukanku dalam peraduan seperti lantunan nada ghaibmu yang bersenandung untuk bahagiaku, “Semoga aku dapati pendamping hidup yang tak ragu menegur saat aku hilaf terlarut dalam sedih. Saat aku senang, terlalut dalam kenikmatan duniawi. Dan, saat aku merindukan-Nya, bidadari ini kemudian mengajaku bersama-sama sujud dalam permadani hijau yang membentang”.

                Kisahku… Terima kasih.



Sabtu, 23 Juni 2012

Dari Bukit Rindu Untuk Mitha Ria S Bag. 2



                Telah aku ungkap tentang berbagai perasaan untuk menemuimu wahai engkau sahabat, namun curam dan terjal likuan hidup telah memojokan nurani hingga terwengku dalam sebuah harap nan panjang. Demikian lelah jika harus kutapaki lorong dawai asmaramu. Fatamorgana bersambung, menyimpan berjuta tanya dalam risau.

Lihatlah aku sekali saja
Bukan kata tak bermakna dalam diam
Risau hati mendekap jiwa
Lirih dan sendu bahasamu, telah menuntun jiwa dalam tenang
Bisikanlah wahai angin
Curah hujan demikian deras
Bersahut dengan kegamangan sikap dalam nyata
Ketahuilah engakau, tentang bintang yang bernyanyi
Dan pahamilah senandung rembulan yang tersembul
Esok pagi adalah cerita
Selaksa peristiwa mengubah deru ombak dari angkuh yang ditemui

                Disinilah, dibalik Bukit Rindu ini, senandung tentang harap kian deras mengalir namun aku rasa bagai awan yang mengapung tak berhaluan dan semua seakan tak membekas dalam pelataran nada-nadamu. Risau pun telah menjelma kabut dari halimun yang menusuk hingga ujung kelopak mata. Dendangkanlah kembali nyanyian kenari yang tersembunyi dan tuntunlah aku dari kenisbian masa lalu yang mewengku, serta lepaskanlah risau hati di persimpangan dalam jiwa penuh damai.
                Sahabatku Mitha, telah aku paparkan tentang rasa kerinduan yang menimpa dan aku peduli lara yang aku rasa, namun semua hanya menjadi catatan-catatan hampa dan melengkapi masa lalu bagiku. Dendangkanlah kembali sahabatku, tentang senandung keceriaan seperti kemarin lalu. Demikian kebahagiaan kutemui dalam bait nada-nadamu.
                Malam telah menyenting sepi dari helaan nafas yang kukenang. Esok pagi adalah cerita tentang harap yang demikian membayang remang. Kebahagiaan pun masih tersimpan disini, di balik Bukit Rindu ini. Biarlah kebahagiaanku terwengku disini, aku masih memiliki pagi dan embun yang akan kujadikan peristiwa indah dari senandung harap tentang  nyanyian-nyanyian ghaib ketika malam menyapa membangunkan dari mimpi.
                Biarkan semua demikian adanya, seperti matahari yang tanpa lelah menyinari pada buana dengan berbagai lakon dan peristiwanya. Dan akan kupelajari kesetiaannya tentang mengagumimu setulus dan seabadi pancaran sinarnya.

Kamis, 21 Juni 2012

Dari Bukit Rindu Untuk Mitha Ria S


Dari Bukit Rindu Untuk Mitha Ria S

               
Perputaran telah merubah zaman, deras samudera biru telah mengikuti jejak dan nafas hingga tak satu pun kisaran damba menjelma dalam damai. Mataku kian memerah karena tangis disudut kengerian luka yang tak pernah usai dari peran dan lakonku.

Sajak pucat cemara
Menyimpan bunga-bunga
Riak danau semilir angin
Lepas, kulepas tanpa bingkai
Engkau seperti bayi yang terlahir
Yang tak tampak bersama tangis
Lalu menjelma bayang
Lalu aku menekur haus
Rasa rindu yang mengembarai hati
Kuberanikan, kukatakan

Buat Sahabatku, Mitha…
            Setelah badai prahara menggulung dalam perputaran zaman, kesunyian pun berlalu dari berjuta terpaan pengharapan tapi aku kian lelah mencari alunan syair tentang keindahaan. Bagai mentari pagi yang melekatkan kehangatan dalam rasa dan imajinasi. Engkau adalah sumber dari segala inspirasiku yang senantiasa aku butuhkan.
                Untuk berlayar dalam badai dan angkara samudera biru, telah aku siapkan kokohnya kemudi dalam sujud serta kencangnya kendali dengan terpaan pawana yang membelai hingga kedalaman sanubari. Namun selaksa misteri yang kutemui dalam nada-nadamu, aku harap bukanlah ranting penghalang keindahan sajak-sajaku, namun aku harap adalah pantulan sinar rembulan yang memberkas cahaya keindahan, seindah bunga mekar diantara tetesan embun yang telah meresap.
                Selaksa rasa semakin dalam bergemuruh dari berbagai tiram lautan luas, kesejukan nafas seakan mengalir bersenandung dendang keindahaan fanorama dan berwujud tentang kerinduan nan membentang disetiap malamku.
                Dalam detak dan nafas kedamaian, dari sisa perih cakar taring masa lalu yang telah terlepas dari bingkai memori yang terekam kisah. Kerinduan yang mengembarai hati, kuberanikan kukatakan dengan sebuah rasa dari pemapaparan tentang keinginan. Walau terlalu abstrak untuk kau simak, aku harap pancaran Illahi akan menarik segala makna tentang keagungan. Ya, hanya dengan ridho Illahi dan restu kedua orang tua, serta ikhlas dalam menghadapi kenyataan, dan apapun itu… hati kita akan tertaut pada kisaran kisah kebersamaan yang lebih nyata.