Masih saja ada sisa jejak dan nafas untuk dikenang, beraromakan wewangian adalah benih yang tertanam dalam awal musim perjalannya. Saat engkau berlalu, aku tetap terdiam dengan kesumringahan yang ada walau lentik jemari menusuk ulu hati mencakar kebahagiaan dengan tangis terbendung kesadaran.
Ini aku merindukanmu seperti malam dengan rembulan tersembul menyinari buana, sedangkan apa yang ia temui? Biarlah ia terpancar hingga ufuk barat yang akan menenggelamkannya.
Tertinggal sebuah episode, dimana cerita aku dan kamu tak pernah tercatat dan dibaca semua orang. Ya, seperti cerpen seorang pujangga. Namun memori yang terekam kisah akan senantiasa tercatat dan aku baca, dalam hatiku saja.
Dalam kerinduan, Nashril Moelyadi — di Bukit Rindu.
24 Juni 2013
Senin, 01 Juli 2013
Selasa, 07 Mei 2013
Dalam Musim Yang Berganti
Waktu kian berlalu, hari berganti, musim merubah zaman.
Asaku melayang terbawa pawana kencang.
Egoku kian membengkak karena derita yang selalu saja menghantui titian perjalanan hidupku.
Telah aku arungi samudera yang luas dengan berbagai tema dalam lakon gelombangnya, aku temui badai, praharanya merusak seluruh bagian layar perahuku. Dimana lagi kusandarkan harapan-harapanku ini? Ach... segalanya telah kandas dan terampas.
Bisunya laut sedikit bukakan kelopak mataku. Kupelajari nyanyian riaknya sehingga syairku adalah percikan air. Syair hujan sejukan segala yang ada. Burung-burung berteduhlah, aku kan basus seluruh permukaan dengan mata dan tetes airnya. Aku temukan kebahagiaan dengan kesunyian panjang hingga menekan ke sela-sela harapan.
Disini awan, guntur dan pelangi menjadi sahabat setia tanpa perasaan saling menuding. Nyanyianku, nyanyian hujan. Kulumat seluruh angkara dan kutemukan dalam nada bencana.
Sungguh hidup menyimpan selaksa makna keindahan walau dalam derita sekalipun, kebahagiaan sesudahnya tak akan terbayang sebelumnya.
Akan selalu kuhampiri dlm musim yg berganti.
Asaku melayang terbawa pawana kencang.
Egoku kian membengkak karena derita yang selalu saja menghantui titian perjalanan hidupku.
Telah aku arungi samudera yang luas dengan berbagai tema dalam lakon gelombangnya, aku temui badai, praharanya merusak seluruh bagian layar perahuku. Dimana lagi kusandarkan harapan-harapanku ini? Ach... segalanya telah kandas dan terampas.
Bisunya laut sedikit bukakan kelopak mataku. Kupelajari nyanyian riaknya sehingga syairku adalah percikan air. Syair hujan sejukan segala yang ada. Burung-burung berteduhlah, aku kan basus seluruh permukaan dengan mata dan tetes airnya. Aku temukan kebahagiaan dengan kesunyian panjang hingga menekan ke sela-sela harapan.
Disini awan, guntur dan pelangi menjadi sahabat setia tanpa perasaan saling menuding. Nyanyianku, nyanyian hujan. Kulumat seluruh angkara dan kutemukan dalam nada bencana.
Sungguh hidup menyimpan selaksa makna keindahan walau dalam derita sekalipun, kebahagiaan sesudahnya tak akan terbayang sebelumnya.
Akan selalu kuhampiri dlm musim yg berganti.
Kamis, 25 April 2013
Aku Dan Kisah Itu
Kelopak membiru dengan remang panorama berkias cakrawala, memutih senja telah bertaruhkan segumpal rindu terbuai nasib nan lara. Fatamorgana bersambung, sesejuk bening embun tak lagi damai yang bersahaja dalam lingkar keindahan pena.
Tercipta helaian mimpi, bergejolak laksana selaksa rasa bergemuruh yang mengulung imajinasi hingga tangisan ombak tak mampu berkawan perasaan.
Ini dengki, sahabat! Atau mereka tak lagi tulus memancarkan keindahan puisi-puisiku.
Aach, jangan lagi ditanya! Ini takdirku.
Tercipta helaian mimpi, bergejolak laksana selaksa rasa bergemuruh yang mengulung imajinasi hingga tangisan ombak tak mampu berkawan perasaan.
Ini dengki, sahabat! Atau mereka tak lagi tulus memancarkan keindahan puisi-puisiku.
Aach, jangan lagi ditanya! Ini takdirku.
Senin, 22 April 2013
Kau, Aku Dan Lelaki Itu
Ini masih yang kemarin, tuturan rasa lewat kata yang tak begitu indah. Ini masih yang kemarin lalu, ungkapan hasrat yang begitu abstrak menjelma bayang, yang kerap kutemui di setiap helaian mimpi.
Kau, aku dan lelaki itu.
Pupus sudah segala omong. Tak ada lagi yang mesti diungkapkan, walau tentang harapan, bahkan tentang kecantikanmu. Namun cerita tentang kita semuanya terungkap dalam memori yang terekam kisah. Selalu saja, adegan demi adegan begitu lancar terpapar hingga tak satu pun cerita terlewatkan.
Tak ada lagi yang mesti diungkapkan. Namun mari kita renungkan, kita pernah berbahagia walau sekejap. Adakah disana mengingatnya?
Kini lorong yang kulalui, adalah lorong kehidupan yang teramat sempit, sayapku pun telah patah menahan beban berat kesendirian. Saat kau bergelut dengan kebahagiaan di sini kuberkubang dalam lumpur keresahan, berduka dalam kehampaan.
Tentang lelaki itu, ya... tentang lelaki itu, selalu saja berdiri di setiap desah napasku. Lelaki itu teramat ganas menghunus tombak menggores kesadaran hingga aku tersungkur, terhempas dan kandas. Dengan taring-taringnya dia robek seluruh kebahagiaanku, hingga lukaku menganga perih dan berbilur. Sakitnya tiada tara hingga aku berteriak, melolong bagai serigala kehilangan hutan.
Ini luka yang kau sayat, ini perih yang dia toreh. Ini aku yang terbakar dan lara. Aku, kau dan lelaki itu semacam laut berpanjangan tepinya tiada berbirai.
Tentang aku, tak ada lagi bahasa untuk kubaca, hanya lena hingga pagi tiba.
Di Tulis, 24 November 2009
Sabtu, 20 April 2013
Bukit Rindu Dalam Kerinduan
Ini adalah jiwa kerinduan terwengku
Denting serta desir telah meninggi
Mata berbinar tiada lelah sayu memandang
Lolongan tak pedulikan lagi cinta memburu
Berkias seakan tak berarti jika hati bertaut
Dekaplah jiwaku bersama kedalaman rindumu
Denting serta desir telah meninggi
Mata berbinar tiada lelah sayu memandang
Lolongan tak pedulikan lagi cinta memburu
Berkias seakan tak berarti jika hati bertaut
Dekaplah jiwaku bersama kedalaman rindumu
Jumat, 04 Januari 2013
Luruhnya Hujan di Kota Intan
Kisaranku kali ini adalah untuk sebuah episode yang telah lalu. Tenggelam dalam tutur harap tanpa awan putih sebagai dinding hati, adalah percik hujan hingga menghanyutkanku dalam buai angan-angan kosong.
"Ka, apa yang sedang engkau lakukan?" demikian sebuah kalimat pertanyaan melalui pesan singkat.
"Sekedar melepas penat, kakak hanya memperhatikan anak-anak bermain di halaman rumah" balasku dallam pesan singkat itu.
"Kak mohon maaf ya jika saya tak bisa meneruskan hubungan kita ini"
Ada getir menjilat hati, sementara hujan luruh hingga ujung kelopak mata. Ini adalah skenaroimu, perananku tak lagi berwujud dalam ceritamu, terhempas dan kandas dalam lakon gelombangnya.
Telah aku ungkap dan aku paparkan tentang sebuah harap yang mewengku hingga kedalaman sanubari. Namun seperti buih mengambang diatas hamparan laut, percikannya pun tak meninggalkan jejak tatkala sebuah hati meluluhkan sebuah harap.
"Nie, apa maksud dari semua ini, hingga kamu ingin mengakhirinya?" tanyaku dengan rasa ingin tahu dari alasannya.
Hanya sebuah jawab nan abstrak untuk mengakui keakuanmu, dan aku terbuai dalam angan-angan kosong untuk mewujudkan mimpi serta harapku.
Musim telah berganti, kencangnya kendali tak lagi membawaku pada kedamaian. Hanya menanti terbit fajar agar siang menjadi peristiwa indah. Peristiwa indah hanya menjadi bagian dan melengkapi langkah yang kutiti kaki. Engkau menghilang dalam musim sesaat.
Baru saja kemarin engkau ingin mengakhirinya...
Ini adalah jiwa kesatria perihku, ini adalah kamu dengan bergelut kebahagiaan. Dan ini adalah dia yang kerap berdiri sebagai ujung tombak yang siap menghunus peran dan lakonku.
Ya... dalam musim sesaat, dan baru saja kemarin engkau menuturkan tentang segala harap untuk mengakhiri deru angin beserta kesejukan napas hingga kesetiaanku untuk menanti terbit fajar.
"Nie, kenapa kau blokir juga akun Facebookku, serta meremove saudara, sahabat dan temanku dari pertemanan denganmu?" seraya mata berkaca dan menghela napas panjang, aku kirim pesan singkat itu. Namun hingga saat ini setelah ratusan senja berlalu tak pernah kutemui kedua jawab itu.
Percikan air kian menenggelamkan perahu beserta layar yang telah robek, separuh wujud telah tak berhaluan hingga meninggalkan sujud tak berpedoman. Dan hanya sebuah nyanyian ghaib dengan tak ada nada sumbang sekalipun.
Inilah adil dan sayang-Mu wahai Engkau Sang Pemilik Semesta.
"Jo, kamu lagi buka Facebook? Ijinkan aku untuk melihat akun seseorang". Parau suaraku bertutur mengharap ikhlas Joan mengijinkan dan meminjamkan Handphonenya.
"Boleh.." dia memberikan Handphonenya.
"Camelia Nuranie Berpacaran Dengan Galih Eka Satria". Demikian semua jawab yang kutemui.
Dengan seribu bahasa kau bentuk, kebahagiaanmu berwujud dan tak lagi berpikir tentang prasasti dengan pahatannya. Dia yang berdiri dengan gemerlap megahnya dunia fana telah mengungguli setiap detak dan desah napasku. Ini aku dengan catatan perih menggores setiap nada yang membentang di kesunyian malamku.
Terima kasih telah hadir dalam berbagai bentuk imajinasi yang telah kurambah hingga keujung ceritanya, yang entah canda atau sandiwara hidup, yang jelas rasa yang kubawa kedalam pikiran-pikiranku adalah rasa yang mengakhiri puisi tragis.
Engkau, berbekalah bunga-bunga agar semerbak sepanjang hari dan sepanjang langkahmu. Jika cinta harus lewat, biarkan hasrat memberinya batas ujian. Jangan dibenci atau sekalipun membakarnya.
"Ka, apa yang sedang engkau lakukan?" demikian sebuah kalimat pertanyaan melalui pesan singkat.
"Sekedar melepas penat, kakak hanya memperhatikan anak-anak bermain di halaman rumah" balasku dallam pesan singkat itu.
"Kak mohon maaf ya jika saya tak bisa meneruskan hubungan kita ini"
Ada getir menjilat hati, sementara hujan luruh hingga ujung kelopak mata. Ini adalah skenaroimu, perananku tak lagi berwujud dalam ceritamu, terhempas dan kandas dalam lakon gelombangnya.
Telah aku ungkap dan aku paparkan tentang sebuah harap yang mewengku hingga kedalaman sanubari. Namun seperti buih mengambang diatas hamparan laut, percikannya pun tak meninggalkan jejak tatkala sebuah hati meluluhkan sebuah harap.
"Nie, apa maksud dari semua ini, hingga kamu ingin mengakhirinya?" tanyaku dengan rasa ingin tahu dari alasannya.
Hanya sebuah jawab nan abstrak untuk mengakui keakuanmu, dan aku terbuai dalam angan-angan kosong untuk mewujudkan mimpi serta harapku.
Musim telah berganti, kencangnya kendali tak lagi membawaku pada kedamaian. Hanya menanti terbit fajar agar siang menjadi peristiwa indah. Peristiwa indah hanya menjadi bagian dan melengkapi langkah yang kutiti kaki. Engkau menghilang dalam musim sesaat.
Baru saja kemarin engkau ingin mengakhirinya...
Ini adalah jiwa kesatria perihku, ini adalah kamu dengan bergelut kebahagiaan. Dan ini adalah dia yang kerap berdiri sebagai ujung tombak yang siap menghunus peran dan lakonku.
Ya... dalam musim sesaat, dan baru saja kemarin engkau menuturkan tentang segala harap untuk mengakhiri deru angin beserta kesejukan napas hingga kesetiaanku untuk menanti terbit fajar.
"Nie, kenapa kau blokir juga akun Facebookku, serta meremove saudara, sahabat dan temanku dari pertemanan denganmu?" seraya mata berkaca dan menghela napas panjang, aku kirim pesan singkat itu. Namun hingga saat ini setelah ratusan senja berlalu tak pernah kutemui kedua jawab itu.
Percikan air kian menenggelamkan perahu beserta layar yang telah robek, separuh wujud telah tak berhaluan hingga meninggalkan sujud tak berpedoman. Dan hanya sebuah nyanyian ghaib dengan tak ada nada sumbang sekalipun.
Inilah adil dan sayang-Mu wahai Engkau Sang Pemilik Semesta.
"Jo, kamu lagi buka Facebook? Ijinkan aku untuk melihat akun seseorang". Parau suaraku bertutur mengharap ikhlas Joan mengijinkan dan meminjamkan Handphonenya.
"Boleh.." dia memberikan Handphonenya.
"Camelia Nuranie Berpacaran Dengan Galih Eka Satria". Demikian semua jawab yang kutemui.
Dengan seribu bahasa kau bentuk, kebahagiaanmu berwujud dan tak lagi berpikir tentang prasasti dengan pahatannya. Dia yang berdiri dengan gemerlap megahnya dunia fana telah mengungguli setiap detak dan desah napasku. Ini aku dengan catatan perih menggores setiap nada yang membentang di kesunyian malamku.
Terima kasih telah hadir dalam berbagai bentuk imajinasi yang telah kurambah hingga keujung ceritanya, yang entah canda atau sandiwara hidup, yang jelas rasa yang kubawa kedalam pikiran-pikiranku adalah rasa yang mengakhiri puisi tragis.
Engkau, berbekalah bunga-bunga agar semerbak sepanjang hari dan sepanjang langkahmu. Jika cinta harus lewat, biarkan hasrat memberinya batas ujian. Jangan dibenci atau sekalipun membakarnya.
Sabtu, 08 Desember 2012
Persembahan Untuk Yang Terkasih
Tanyaku dalam diam, terjawabkannya yang seindah
pelangi adalah setelah hujan mengguyur kepedihan. Akan kutemui esok hari
bersama keinginan-keinginan yang bermanjakan kerinduan tentang mencintaimu.
Kerinduan yang ada bagai layar terpampang
bernuansakan kidung sajak ceria hingga semua bagai tetes embun yang tak pernah
diketahui tentang ketulusan rasa dalam membasahi pagi. Demikian aku yang
merindukanmu.
Telah kutemui sebentuk harap kebersamaan dalam kisah
tanpa pamrih, dan yang ada hanya ketulusan rasa membuai sanubari keindahaan
dalam mencintaimu.
Engkau adalah inspirasi, hadirmu telah
membuyarkan dan meleburkan angan-angan kosong yang senantiasa akrab dengan
perasaan.
Terbang meninggi
Mendekap jiwa melepas kesunyian
Luas langit membiru
Memecah penat, berpaling dari kisah lalu
Mendekap jiwa melepas kesunyian
Luas langit membiru
Memecah penat, berpaling dari kisah lalu
Mata berbinar membiru telaga mata
Damai tercipta tantang ketulusan semerbak jiwa
Damai tercipta tantang ketulusan semerbak jiwa
Dalam mata yang berbinarkan kerinduan,
terlepaskannya adalah bagai bintang bertabur pada malam serta bagai mentari
yang tiada pamrih menyinari buana ini. Namun sebentuk harap tentang nyanyianku
adalah bertautkannya senandung senja dalam wujud nyata tentang kisah kebersamaan.
Kali ini aku takan
bertanya tentang bagaimana tinta menoreh kisah pada hamparan kertas emasku,
namun aku akan mempelajari nyanyian lembar kisah kebersamaannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
